Benk tinggal bersama ibunya yang
memiliki usaha laundry baju. Ibunya yang menderita sakit punggung parah,
terobsesi untuk menang undian lotre nasional.
Suatu hari, karena harus
mengirimkan laundry ke pelanggan, Benk datang ke sekolah dengan membawa baju yang
telah dicuci dengan motornya. Niatnya untuk parkir di area parkir motor ditolak
oleh penjaga parkir sekolah. Karena tempat tersebut sudah disiapkan khusus
untuk Pet dan mobilnya. Tanpa mau mengalah, Benk meninggalkan begitu saja
motornya di sana dan bergegas masuk ke sekolah.
Lin dan Benk dipanggil oleh bu
kepsek. Mereka diminta untuk mewakili sekolah dalam ajang Teen Genius. Benk
awalnya menolak dengan alasan ingin berkonsentrasi untuk ujian. Bu kepsek
kemudian memberitahu mereka bahwa pihak sekolah sudah memutuskan untuk
menggunakan ajang tersebut untuk menentukan siapa di antara Benk dan Lin yang
bakalan menerima beasiswa penuh pada tahun berikutnya. Pemenangnya ditentukan
dari yang berhasil mendapatkan poin terbanyak dalam ajang tersebut.
Pada saat pertandingan
berlangsung, Benk yang bernafsu untuk mengalahkan Lin justru nyaris membuat tim
mereka kalah dari sekolah lain. Untunglah, setelah kembali diberi pengertian
oleh Lin agar lebih tenang dan keduanya berhasil menjadi juara.
Pasca perlombaan, bu kepsek
memberitahu bahwa Lin yang akan mendapatkan beasiswa penuh selama kelas 2. Benk
diminta untuk belajar lebih giat agar bisa bersaing.
Benk mengantarkan ibunya ke rumah
sakit untuk diperiksa. Lamanya antrian membuat Benk memberitahu bahwa ia sudah
tidak lagi mendapatkan beasiswa dari sekolah. Lagi-lagi ibu Benk meminta Benk
agar tidak usah memikirkan hal tersebut karena mereka masih punya waktu
beberapa bulan sebelum waktunya membayar biaya sekolah.
Esok harinya, Pet dan Grace
memperkenalkan Lin pada tiga orang klien mereka. Ada Ping yang menangani siaran
radio di sekolah, Deak atlet renang yang sibuk latihan dan Tong pengagum berat
Grace yang jago fotografi. Tanpa banyak basa basi, Lin memberitahu bahwa
masing-masing dari mereka harus membayar 30rb kepadanya per semester. Sebagai
gantinya, ia akan memberikan jawaban untuk 13 mata pelajaran. Tidak lupa Lin
mengingatkan agar mereka semua tidak membocorkan hal tersebut pada siapa pun.
Cara menyontek yang digunakan
kali ini adalah melalui gerakan jari Lin. 3 orang pelanggan merasa keberatan dan
memaksa agar Lin mencari metode lain yang lebih gampang. Setelah semalaman
berpikir, Lin menemukan metode baru yang lebih mudah. Yaitu dengan memanfaatkan
jam dinding yang ada di depan kelas. Setelah satu jam berlangsung, Lin akan
memberikan tanda dengan gerakan tangannya pada saat jarum jam bergerak di
posisi tertentu.
Sebelum ujian berlangsung, guru
pengawas datang bersama Benk. Karena terlambat, Benk diikutsertakan untuk ujian
di kelas Lin. Tidak itu saja, ia diminta untuk duduk di sebelah Lin.
Tak lama ujian pun dimulai.
Awalnya, trik Lin dkk berjalan lancar. Hingga tiba-tiba Benk mempertanyakan
sikap Lin yang menurutnya terlalu banyak bergerak. Apesnya, sikap Benk justru
membuat guru pengawas curiga. Hal itu berujung pada Benk yang panik dan tanpa
sengaja menjatuhkan secarik kertas dari saku bajunya. Benk mati-matian
mempertahankan kertas tersebut, namun tidak kuasa menahannya dari rebutan guru
pengawas. Tanpa disangka, kertas tersebut berisi daftar alamat pengiriman
pelanggan laundry. Guru pengawas pun berniat untuk menggeledah barang bawaan Benk
secara keseluruhan. Hal itu membuat Benk syok dan akhirnya muntah di meja.
Setelah ujian selesai, Benk
memberitahu ibunya bahwa ia ingin keluar dari sekolah. Beberapa saat kemudian,
Lin muncul di depan rumah Benk. Setelah berbasa-basi, Lin menceritakan bahwa ia
sudah meminta bu kepsek untuk menyerahkan jatah beasiswanya kepada Benk. Lin
berdalih bahwa ayahnya baru saja menang lotre.
Sebagai ganti beasiswa, Benk lalu
memberitahu Lin bahwa ia bisa mengirimkan pakaian kepadanya untuk di-laundry
kapan pun secara gratis.
Benk lalu mengantar Lin pulang
dengan naik bus.